Jebakan Tikus Memakan 1 Nyawa Petani Sragen

Nov 4, 2020 | Sragen | 0 comments

Jebakan Tikus
Jateng News Sragen – Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi menyampaikan insiden petani meninggal dunia akibat jebakan tikus listrik di Jati Tengah hari ini bisa dipidanakan.

Ardi panggilan akrabnya menyampaikan jalur hukum bisa ditempuh karena antara korban dengan pemilik lahan merupakan orang yang berbeda. Berbeda dengan kejadian dua hari lalu pemilik lahan dan korban ialah orang yang sama.

“Peristiwa hari ini potensi untuk bisa dijadikan pidana tetap ada karena antara korban dengan pemilik lahan merupakan orang yang berbeda. Hari ini kejadian berbeda dengan kejadian dua hari yang lalu dimana korban ialah pemilik lahan sendiri,” terang Ardi, Rabu (4/11/2020).

Kendati demikian Ardi menyampaikan pihaknya akan terlebih dahulu mendiskusikan dengan kepala desa dan Kapolsek Sukodono. Namun Ardi menegaskan tahapan penyidikan tahap awal tetap pihaknya laksanakan yang akan dilakukan oleh Polsek Sukodono.

Penegakan hukum dikatakanya memang untuk menimbulkan efek jera namun jika masih ada formula atau upaya lain untuk menimbulkan efek jera bagi petani yang memasang jebakan tikus pihaknya akan mencari formula tersebut

“Penegakkan hukum memang memberi efek jera tetapi kita akan tetap mencari formula lain untuk menimbulkan efek jera yang jelas proses penyelidikan tetap dilaksanakan,” kata Ardi.

Terkait pasal yang bisa digunakan ialah Pas 359 KUHP yaitu barang siapa karena kesalahannya atau kelalaian mengakibatkan meninggalnya seseorang.

Ardi menyampaikan meminimalisir untuk mengantisipasi untuk SOP dalam melakukan kegiatan di persawahan bisa menggunakan sepatu boots karet. Kendati demikian pihaknya tetap melarang penggunaan jebakan tikus listrik.

“SOP minimal menggunakan sepatu boots karet karena dari semua korban hasil visum yang juga akan kita lakukan pagi ini. 100% mengalami luka pada kaki bagian pergelangan sampai betis. Artinya kalau menggunakan boot karet kalaupun ada setrum mungkin bisa diantisipasi namun lebih baik tidak digunakan aliran listrik tersebut,” lanjut Ardi.

Kapolres mengatakan dalam kurun waktu 10 bulan terakhir setidaknya ada sembilan kejadian serupa. Ini menandakan, kata Ardi setidaknya ada satu kejadian setiap bulannya.

“Peristiwa seseorang tersengat aliran listrik yang dipergunakan untuk jebakan tikus ini menjadi perhatian kami Polres Sragen. Karena dalam kurun waktu 10 bulan terakhir telah terjadi 9 kejadian serupa, ini tandanya hampir setiap bulannya ada satu kejadian,” kata Ardi.

Ia mengatakan meskipun dari Polres Sragen telah melakukan upaya-upaya pendidikan atau edukasi kepada masyarakat namun kenyataannya masih banyak warga masyarakat menggunakan aliran listrik sebagai jebakan tikus.

Ardi mengatakan pihaknya akan menyikapi secara serius. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah khususnya Dinas Pertanian termasuk dari PLN apakah terjadi penyimpangan atau tidak.

“Kita akan berkoordinasi kepada Pemda khususnya Dinas Pertanian termasuk PLN, apakah yang dilakukan oleh masyarakat yang menggunakan aliran listrik sebagai jebakan tikus ini juga harus kita luruskan dan bisa dijadikan formula mencegah kejadian serupa di kemudian hari,” lanjut Ardi.

Sementara itu, Kades Jati Tengah Sagi menyampaikan dirinya tidak tahu persis berapa banyak jumlah jebakan tikus listrik di Jati Tengah.

Sagi menambahkan sejauh ini pihaknya telah terus melakukan sosialisasi kepada para petani agar tidak menggunakan listrik untuk jebakan tikus. Namun nampaknya tidak digubris oleh para petani.

“Kita tidak tahu persis jumlahnya berapa jebakan tikus listrik, karena wilayah di Jati Tengah itu luas. Setiap hari setiap ada kegiatan, baik dari kecamatan, desa, semua anggota kelompok tani sudah sosialisasi.”

“Sosialisasi untuk jangan memasang perangkap tikus aliran listrik karena masyarakat sendiri yang ngeyel akhirnya terjadi insiden ini,” terang Sagi.

Sagi menyampaikan hama tikus di wilayahnya memang tidak menganggu fatal namun hama tikus ini sangat meresahkan dan mengganggu para petani.

“Sebenarnya gangguan tikus tidak fatal, tapi pernah tanam jagung kemarin ada yang fatal, dua petani tidak panen sama sekali. Meski tidak fatal, tetap hama tikus sangat menganggu petani,” tandasnya.

 

Sumber: Tribunjateng.com

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *